AMBANG DAN AMBANG

Ambang itu nama bagi kenangan saya atas sebuah negeri yang merentang dari perbatasan Bolaang Mongondow – Minahasa Selatan hingga ke batas terluar Bolaang Mongondow Selatan, lalu melingkar hingga ke perbatasan Bolaang Mongondow Timur – Minahasa Tenggara. Orang menyebut kawasan itu, bersama dengan lintasan daerah sepanjang pantai utara, sebagai Bolaang Mongondow Raya.

Saya menyebutnya sebagai kenangan yang terus hidup menjadi masa kini. Sebuah kontradiksi ruang-waktu yang keindahannya (dan saya kira juga kebaikan dan kebenarannya) terletak pada kontradiksi-kontradiksi itu. Dalam sejarahnya, kemarin dan hari ini, Bolaang Mongondow Raya dan seluruh isinya adalah kontradiksi itu sendiri. Dan itulah ambang dalam pengertiannya bagi saya.

Secara harafiah, dalam bahasa Indonesia, ambang bermakna balok melintang atau kayu palang. Secara maknawi, ambang bisa berarti muara, tingkat atau momentum mendekatnya sebuah peristiwa. Secara puitika, ambang mengisyaratkan gerbang antara yang baru dan yang lama, yang tidak dan yang iya, yang ini dan yang itu, secara bersamaan dalam sebentuk keselarasan kontradiktif.

Seorang pelajar filsafat mungkin akan memahami ambang dalam kerangka dialektika. Seorang aktivis politik mungkin akan menandai ambang sebagai gerakan perubahan. Seorang pemimpi seperti saya lebih suka mengenang ambang sebagai sebuah gunung di kawasan Bolaang Mongondow Timur tempat saya mengulang rasa cinta pada apa yang terlupa dari Indonesia.

Maka ambang, baik sebagai makna maupun sebagai nama dari sebuah gunung, bagi saya senantiasa merupakan tantangan. Sebagai makna, tantangan itu datang dari kehendak untuk membaca kontradiksi yang menjadi pintu masuk ke dalam pemahaman saya atas Bolaang Mongondow Raya secara keseluruhan. Melupakan konsep itu sama dengan melupakan esensi negeri para bogani ini.

Ambil contoh yang terdekat, politik Bolmong Raya hari ini. Dalam segala polahnya, para politisi BMR sepertinya sedang berada dalam upaya yang sedemikian keras untuk menghapuskan segala kontradiksi. Uniknya, sadar atau tidak, mereka hanya bisa berlagak laku dalam kontradiksi yang terus menerus antara apa yang mereka idealkan dengan realitas keseharian.

Adapun sebagai nama sebuah gunung, Ambang menantang saya bukan dengan pendakian tapi dengan penciptaan berulang-ulang akan makna Indonesia. Pada satu subuh berkabut, bersama dengan seorang pemuda Mongondow dan seorang anak Minahasa yang keduanya warga Boltim, saya menuju kaki Ambang. Sekira dua belas hari dari subuh itu saya mengikuti pertemuan yang membicarakan soal upaya pembentukan Provinsi Bolaang Mongondow Raya di kota Kotamobagu.

Bertabur orang-orang hebat dari seluruh kawasan Bolmong Raya, pertemuan itu seperti kehilangan sesuatu yang saya temukan ketika merenung di kaki Ambang subuh itu: sepenggal Indonesia yang tertutup kabut laksana gelombang tsunami. Lalu saya berpikir dalam pertemuan itu, tidak adakah dari para tokoh Bolmong ini yang pernah mendaki Ambang meski selangkah untuk melihat Indonesia dari situ?

Dan itu berarti melihat Indonesia dari Bolaang Mongondow Raya.

Apa artinya ambang hari ini bagi Bolaang Mongondow Raya setelah sebuah Indonesia menyuruk masuk ke bawah kabut di kaki gunung Ambang? Sebuah sumbangan dari sebuah daerah yang sedang menunggu dilahirkan kembali sebagai tanah para bogani ataukah semata upaya melupakan apa yang seharusnya terlupa dan terus melangkah tanpa tanya?

Untuk pertanyaan ini saya tidak punya jawaban. Tapi saya percaya, dengan terus bertahan dalam keselarasan kontradiktif itu, setiap elemen masyarakat di negeri para bogani ini akan mampu menemukan yang terbaik sebagai jawaban atas ribuan pertanyaan yang kini menyusun Ambang sebagai ambang. Kayu palang bagi pintu dari sebuah rumah yang saya kenang sebagai Bolaang Mongondow Raya.

Selamat berkarya dalam perjuangan untuk ambang.co dan seluruh pembacanya.

 

Manado, penghujung Juni 2019

Amato Assagaf