“Barangkali politik adalah hidup pada intinya yang paling busuk. Dan jika kebusukan hidup adalah realitas terdekat kita, maka menghindari politik hanya akan menghindarkan kita dari realitas hidup itu sendiri.” – Publika

Meski telah menjalani hidup sebagai upaya untuk mencari “matahari” yang pernah dia miliki di suatu masa lalu, Sehan Salim Landjar tidak pernah berada di bawah matahari yang sama setiap kali dia bangun dari tidur malamnya. Itu adalah salah satu dari sekian kalimat yang sering aku gunakan untuk menggambarkan mantan bupati Bolaang Mongondow Timur yang sedang bertarung mendapatkan posisi sebagai Wakil Guberur Sulawesi Utara ini. Dengan kata lain, saya ingin mengatakan bahwa Sehan adalah sebuah keajaiban.

Dengan pasangannya Christiany Eugenia Paruntu pada posisi Gubernur Sulut, saya tidak terlalu yakin bahwa keajaiban Sehan akan berfungsi dalam kontestasi kali ini. Sementara di tingkat nasional dan beberapa daerah lainnya keajaiban sering terjadi dalam proses politik, di Sulut keajaiban tampaknya belum menjadi bagiannya. Setidaknya ketika masyarakat masih berada dalam posisi mapannya dan kelas terdidik dalam masyarakat yang sama, pada satu kelompok, masih menganggap politik sebagai ruang kesempatan untuk menambah buncit perutnya dan, pada kelompok lainnya, masih melihat politik dengan rasa jijik.

Posisi mapan masyarakat adalah posisi tak tertentunya politik bagi kehidupan mereka. Dalam posisi ini, masyarakat tidak melihat politik sebagai hal yang menentukan bagi kesejahteraan mereka. Dalam bahasa yang lebih populer, posisi ini biasa diekspresikan lewat pernyataan, “Siapapun pemimpin politiknya, hidup kita akan sama saja.” Tapi, dalam hal ini, masyarakat selalu adalah korban dari para politisi busuk atau yang tengah membusuk. Dan, sebagai korban, sulit bagi mereka menciptakan keajaiban untuk mengubah situasi.

Yang bukan korban tapi juga ikut menghalangi terjadinya keajaiban itu adalah kelas terdidik di dalam masyarakat tersebut. Meski tidak bisa dianggap sebagai pelaku, mereka adalah penyumbang penting bagi stabilitas kenaifan dan irasionalitas masyarakat dalam memahami politik dan segala prosesnya. Dalam kisaran lima tahun terakhir, warga media sosial di negeri ini menemukan istilah yang sekira tepat bagi mereka, “kelas menengah ngehe.”

Dalam pengertian saya, terutama untuk Sulawesi Utara, kelas menengah ngehe ini selalu adalah kelas terdidik, setidaknya mengenal baca tulis dalam tingkat lebih lanjut dari kemampuan baca tulis masyarakat pada umumnya. Tapi mereka, terutama kalangan yang mestinya bisa dianggap sebagai intelektual, justru menyikapi politik daerah dalam cara yang tak kurang menyimpang.

Dua di antara sikap yang kentara bagi kita di daerah nyiur melambai ini telah saya sebutkan di atas. Pertama, kelompok yang menggunakan politik sebagai kesempatan untuk meraup sepenuhnya kesuksesan tanpa harus kehilangan posisinya sebagai “wakil idealitas masyarakatnya.” Mereka tidak memiliki jabatan politik resmi baik di tingkat eksekutif maupun legislatif. Mereka umumnya adalah para politisi busuk yang telah kehilangan posisi politisnya, bisa juga intelektual yang, lewat berbagai koneksi sosial, punya nama yang lebih besar daripada prestasi intelektualnya.

Tapi saya lebih tertarik pada kelompok sikap yang kedua, orang-orang yang (maunya bersih) sedemikian sehingga memandang politik – setidaknya politik daerah – dengan rasa jijik. Saya tidak pernah mengerti kebusukan apa yang sedemikian rupa busuknya dalam politik daerah sehingga mereka harus sedemikian merasa jijik. Tingkat rasa jijik yang, dalam pandangan saya, justru telah menjadi sangat menjijikkan.

Pertama, kita harus membenci tindakan keliru seseorang tapi tidak boleh membenci orangnya. Ini bukan semata nasehat orang tua-tua nan arif bijaklaksana tapi posisi rasional seorang terdidik. Dan saya 100% percaya pada ungkapan itu. Tapi mungkin mereka – para penjijik yang menjijikkan itu – tidak membenci para politisi (yang busuk, sedang membusuk atau yang tidak busuk). Mereka mungkin membenci sistem dan proses politik di daerah ini.

Namun,  jika begitu, kenapa segala ikhtiar untuk membicarakan politik daerah – seperti menulis tentang para politisi seperti yang biasa saya lakukan – dianggap sebagai semacam pelibatan diri yang lancung dalam politik? Saya belum sepenuhnya paham pada keinginan mereka kecuali melihatnya bahwa sebagai sikap naif dalam menggunakan berkah dan talenta yang mereka miliki sebagai kelompok terdidik di tengah masyarakat untuk menciptakan keajaiban dalam proses politik di daerah ini, sebetapapun itu hanya sepercik saja.

Keajaiban dalam politik bukan mu’jizat Yesus menghidupkan Lazarus, ia lebih mirip kengototan teosofis Paulus dalam menyusun struktur esensial Kekristenan. Sebuah upaya yang bersandar pada semacam keyakinan “buta” akan kebenaran pesan penyaliban setelah sang rasul dibutakan Yesus dalam perjalanannya yang penuh murka menuju Damaskus.

Menarik melihat diri saya sebagai, katakanlah, intelektual angkuh yang dibutakan oleh Sehan Landjar ketika dia menunjuk saya sebagai pembantu khususnya saat menjadi bupati. Posisi ini saya tempati selama sekira dua tahun dan dalam masa itulah, seperti Li Jinbao, pendeta Wudang yang dibutakan Kublai Khan dalam serial Netflix, Marco Polo, kebutaan saya menumbuhkan seratus mata lain untuk melihat politik. Maka, seperti sang Taois, sudah seharusnya jika saya berterima kasih kepada Sehan.

Saya bukan Paulus dan Sehan bukan Yesus (meski pada hari-hari terakhir ini, banyak yang mencoba mengangkat kembali isu Sehan dan Yesus itu dalam bahasa kampanye hitam yang brutal). Saya juga bukan Li Jinbao dan Sehan bukan Kublai Khan, tapi kedua kisah itu terlalu luar biasa untuk tidak saya gunakan sebagai pelajaran. Menggunakan “mata” yang terberi pada kita sejak lahir tidak akan pernah membuka seratus “mata” lainnya yang telah dilatihkan untuk kita oleh alam, sejarah dan masyarakat.

Demikian pula dengan keajaiban itu...

Tidak ada ungkapan dalam Kitab Perjanjian Baru yang paling saya sukai seperti pernyataan Yesus, “Aku adalah jalan, kebenaran dan hidup.” Saya tidak akan memamerkan bacaan saya atas esoterisisme dalam tulisan ini tapi cukuplah saya katakan bahwa salah satu tafsiran saya atas kalimat itu adalah petunjuk Yesus bahwa, setidaknya secara esoteris, ketiga “konsep” itu sama dan sebangun.

Dan jika demikian adanya maka menolak hidup berarti menolak ‘jalan’ sekaligus ‘kebenaran.’ Jalan apa dan kebenaran apa jika yang sedang kita bicarakan adalah politik? Sebagai guru politik saya, Sehan tidak pernah memberi saya jawaban untuk pertanyaan itu. Saya mendapatkan jawabannya dari “kebisuan,” atau mungkin lebih tepat disebut “kegagapan”  kaum terdidik di daerah ini atas politik.

Politisi busuk yang menjadi pelaku pemusnahan jalan dan kebenaran ‘yang-politik’ dalam praktek politik keseharian kita, telah membuat masyarakat melihat kebenaran dalam politik sebagai kesempatan untuk meraup keuntungan sementara. Toh, jadi atau tidak, siapapun yang akan kami pilih tak akan mempengaruhi hidup kami. Begitu kira-kira argumen masyarakat pada umumnya.

Di tingkat masyarakat umum, mestinya sikap pragmatis semacam ini dibaca oleh para terdidik sebagai teguran yang penuh kearifan agar mereka mengikhtiarkan keajaiban bagi perubahan. Tapi apa lacur, justru kaum terdidik inilah yang semakin menguatkan sikap pragmatis masyarakat itu. Mereka, dengan latar pandangan yang sama, melihat politik sebagai kesempatan. Setali tiga uang dengan masyarakatnya, mereka ikut mencari kesempatan demi kepentingan oportunistis.

Satu hal yang harus dicatat, jika di tingkat masyarakat umum sikap pragmatis ini bisa dianggap sebagai iluminasi “kearifan” maka di tingkat kelas terdidik sikap ini adalah olesan “kebejatan.” Berkah kelas dan kesempatan yang mereka miliki tidak menjadikan sikap itu sebagai cara bertahan hidup di tengah praktek politik tanpa jalan dan kebenaran ‘yang-politik’ sebagaimana masyarakat umum; pragmatisme. Tapi lebih merupakan cara untuk menambah tumpukan lemak busuk di dalam usus mereka yang selalu terasa kosong; oportunisme.

Adapun, jika masyarakat yang sesungguhnya tidak merasa puas dengan sistem dan proses politik daerah ini menjadi lebih ideologis, maka sikap yang akan mereka ambil cenderung mengarah pada politik identitas. Dalam dirinya, ini adalah sikap yang bisa dipahami. Ketika tak ada yang bisa kita lakukan saat kekuasaan tak lagi berdangka pada publik, tidak ada tempat kembali yang paling nyaman seperti identitas.

Persoalannya, ketika politik identitas mengeras oleh salah paham atas apa yang disebut sebagai identitas, ia tidak lagi menjadi isu yang nyaman bagi keberagaman kita. Sehan pernah menjawab upaya manipulasi politik identitas di Bolaang Mongondow Timur ketika ada sekelompok orang yang mencoba menegasi identitas “Boltim” dari beberapa kelompok bukan-Mongondow dan bukan-Muslim di daerah itu dengan sebuah pernyataan tegas, “Orang Boltim adalah siapa saja yang hidup, tumbuh dan berbuat bagi Boltim. Tidak peduli apapun suku dan agamanya.”

Sehan bagi saya bukan contoh ideal politisi pluralis. Dia adalah politisi dalam pengertian yang sama “busuk” dengan kebanyakan politisi di daerah ini, termasuk para politisi yang kini tengah menjadi lawannya dalam kontestasi Pilkada Sulut kali ini. Tapi sembilan puluh sembilan mata saya yang lain tampaknya bisa melihat apa yang tidak busuk dari mereka semua.

Dan pada Sehan itu adalah keajaiban yang dia miliki sebagai politisi untuk tampil dalam sebuah kontestasi yang akan sulit dia menangkan tapi harus dia jalani. Saya tidak tahu apa niat Sehan – saya sudah berbilang tahun tidak pernah bertemu dan ngobrol dengannya – tapi saya punya kewajiban dari berkah dan kesempatan yang saya miliki sebagai kelas terdidik untuk melihatnya sebagai kesempatan bagi Sulut untuk membuktikan bahwa di daerah ini keajaiban politik masih mungkin terjadi.

Itu tidak berarti Sehan harus dimenangkan. Meski tak pernah lagi dilibatkan dalam urusan partai, sebagai orang partai saya tidak boleh mendukung atau membuat tulisan yang mengampanyekan Sehan yang tidak didukung oleh partai saya. Sebagai orang partai saya harus mendukung dan mengampanyekan Vonny Anneke Panambunan, politisi perempuan yang mengagumkan dan pernah saya tulis hampir setahun yang lalu

Dalam tulisan ini, dengan membicarakan Sehan, saya hanya bermaksud menyampaikan bahwa harapan bagi kita untuk mencermati ‘hidup’ yang jumbuh dengan politik dalam semua kebusukannya adalah kembali melihatnya sebagai sekaligus ‘jalan’ dan ‘kebenaran’ seperti yang diisyaratkan oleh firman esoterisYesus. Dan setelah itu keajaiban akan mejadi mungkin bahwa Sulut sesungguhnya bisa berubah dalam pengertiannya yang lebih berpengharapan.

Berputus asa pada harapan ini adalah sikap kelompok kedua kaum terdidik di kalangan kelas menengah kita. Karena jika memang ada yang busuk dari realitas sistem dan proses politik kita, maka itu adalah bagian dari kebusukan yang pasti ada dalam hidup itu sendiri. Meninggalkan politik praktis keseharian, dalam kerangka pikir ini, adalah meninggalkan hidup. Dan itu jelas berarti sekaligus meninggalkan ‘jalan’ dan ‘kebenaran’ yang arti akhirnya adalah membiarkan kebusukan itu terus berlangsung.

Saya mungkin tidak seberani Sehan yang pernah mengatakan bahwa sikap seperti itu justru hendak melanggengkan kebusukan dalam politik. “Mereka mengajak kita menghindari politik agar kelompok mereka bisa terus berkuasa. Dan kepentingan mereka sebagai suatu kelompok terus diuntungkan.” Seperti itulah kira-kira yang pernah diucapkan Sehan.

Pada saya, jikapun tidak seperti yang dikatakan Sehan, minimal sikap “mengambil jarak” yang sedemikian ngehe dari politik praktis – terutama di daerah – hingga bahkan mencurigai tulisan tentang para politisi seperti yang saya lakukan ini atau bentuk keterlibatan lainnya adalah sebuah “kebusukan politis” tersendiri. Upaya untuk kritis, jika itu yang mereka maksudkan dengan mengambil jarak, tidak boleh berarti negativitas total.

Sebagaimana artinya yang lebih tepat, kritik harus berlangsung baik sebagai negasi, afirmasi, maupun kreasi. Tapi yang terutama, seperti apa yang dilakukan Sehan Salim Landjar padaku, kritik dalam politik harus dilangsungkan dengan seratus mata. Dan itu tidak bisa kita dapatkan sebelum mata terberi kita, yang sesungguhnya hanya bisa melihat apa yang ingin kita lihat, dibutakan terlebih dahulu.

Saya sungguh ingin menganggap diri saya sebagai Paulus atau Li Jinbao, tapi sayangnya Sehan yang telah membutakan “mata terberi” saya bukan Yesus atau Kublai Khan. Dia hanya seorang politisi yang bisa jadi memang busuk, sedang membusuk atau, barangkali, hanya sebuah keajaiban politik yang kita anggap sebagai sebentuk kebusukan.

Saya tidak tahu apakah saat ini Sehan masih mencari “matahari” yang pernah dia miliki di suatu masa lalunya itu. Tapi saya yakin Sehan masih memiliki keajaiban itu, apapun arti keajaiban itu bagi kita saat ini dan bagaimanapun jadinya keajaiban itu nanti. Tidak peduli apapun pendapat pembaca, dalam ramalan saya, Sehan dan pasangannya akan kalah, seperti juga politisi idola saya Vonny Anneke Panambunan dalam kontestasi Pilkada Sulut kali ini. Dan jika ramalan saya benar, maka itu berarti saya masih harus terus menulis lebih sering lagi tentang keajaiban dalam politik seperti Sehan Salim Landjar.

Selamat membusuk...

Manado, 18 Oktober 2020
Amato

 

 

Sekencang apapun kebohongan berlari, kebenaran akan sanggup melampaui…

Pertarungan politik kerap melahirkan kegaduhan. Mengganggu dan merusak konsentrasi rakyat, yang kini sedang menghadapi banyak masalah. Pada faktanya, rakyat saat ini berhadapan dengan problem genting. Mulai dari soal Pandemi Covid-19, kesulitan ekonomi, hingga gonjang-ganjing politik.

Ambang itu nama bagi kenangan saya atas sebuah negeri yang merentang dari perbatasan Bolaang Mongondow – Minahasa Selatan hingga ke batas terluar Bolaang Mongondow Selatan, lalu melingkar hingga ke perbatasan Bolaang Mongondow Timur – Minahasa Tenggara. Orang menyebut kawasan itu, bersama dengan lintasan daerah sepanjang pantai utara, sebagai Bolaang Mongondow Raya.